sebuah batok kepala telah pecah

lingkaran itu menggelap
serupa pekat
berkeliling, menggelinding
nyasar di jidat
para petinggi negeri keparat

lihatlah
bara api keluar dari mulut para jendral
lalu mampir di otak sang kopral
satu perintah yg pejal
dari pemuja ajal
titah itu singkat, jelas, padat:
bubarkan mereka
bukan dg gas air mata

pasang pelurumu dan jangan ragu
lesatkan….
tak peduli melengkung atau lurus tajam
ia harus keji menikam

lalu dor..dor dor….
layar dibuka dengan didahului cicit burung kondor

amboi,
mereka berderak
menerjang remah remah berserak
sekawanan ksatria bermahkota ungu dari timur
engkau kini serupa yamadipati sang penggali kubur

dan timah panas itupun mendesing
menerjang daging para paria papa kurus kering
menembus daun pintu sebuah rumah bambu
merobek paha, meledakkan kepala
mengirim amis darah hingga ke ibukota
mengganggu lelap sang pangeran sinting
serupa bising membuat pekak kuping

ksatria,
picu bedil telah kau tarik
menerjang, membidik, membuat aku dan kamu bergidik

membuat mereka gentar
lalu terbirit mundur dengan sadar

ksatria berbaju bintang di pundak
engkau mulai membentak:
pengacau hanya pantas untuk mati
dan dada para paria itu bergejolak
mereka mulai teriak:
kami tak mau terusir dari ladang di mana masa depan bersemai
sadumuk bathuk, sanyari bumi

maafkan aku
yang hanya mampu bengong di depan tivi
melumat perbantahan tak jua kunjung henti
semuanya tentang remeh temeh tanpa arti
tanah yg keras, tanah yg basah, peluru karet, peluru timah

namun akhirnya
rasa mahfum gagal hadir dikepala
apakah itu sebuah sengaja
atau
hanya hari yg naas dan celaka

nurani sedang lelap tak beranjak
mungkin ia terlalu lama terinjak
terselip di ujung sepatu lars para serdadu sok bijak

wahai saudaraku
yg berada di tepian derap pembangunan
teruslah berlawan
jangan biarkan rasa takut itu jumawa
jangan biarkan jejakmu dihapus paksa
oleh gerombolan para kurawa
yg mengaku sbg ksatria

15.06.07 (teringat korban pasuruan)

Add comment June 15, 2007

aku akan balik badan

sudah lama kau dengar ini di telinga
cerocos mulut bau nikotin murahan tembakau madura
bahkan saat hari masih dini
begitu dini:
menungguku bukanlah sebuah kebaikan
bagimu
juga bagiku

aku terlalu liar untuk cepat pulang
karena
kubayangkan
akulah elang
melayang sendirian

tapi
telaga juga semak belukar itu
begitu teduh dan dalam
dan setia kau kirimkan
lewat petir, juga hujan

dan
aku merasa ngungun
lalu tersungkur
oleh waktu yg nikam sekeji sangkur :
amboi,
betapa pongah aku selama ini
melaju
membelakangimu

maka kumohon
kamu
bertahanlah di tikungan ke tiga itu
aku akan balik badan
lalu gegas
menujumu

14.06.07, edited 15.06.07

Add comment June 15, 2007

untuk kawan yg rela singgah

kawan
terimalah takzimku untukmu
yg sudi singgah di rapuh gubukku

mungkin kedepan
ritual ini bisa berulang
saat kita bersulang
sebagai dua benak gelap gundah bimbang

akan kusuguhkan padamu dengan ajeg
aroma kopi yg mulai apek

oleh waktu dan kesendirian

juga liukan asap tembakau madura
yg berkeriting di udara

kawan
hari ini kudedahkan semua :

kau ternyata

bukan seperti manusia biasa

15.06.07

Add comment June 15, 2007

terbunuh oleh rabun

benarkah begitu
seperti katamu
tentang cinta yg berserak dimana-mana

taukah kamu,
semua masih gelap bagiku
hitam yg semesta
seperti payung para peziarah kubur

sejak rembulan itu pergi
hanya meninggalkan bintik
serupa paralaks parah panjang
yg susah kutangkap

[ada jeda di nafasmu
saat kubisikkan nganga luka itu
jejak yg panjang
menikamku di labirin ingatan
tentang setumpuk buku, juga sekeranjang buah duku
yg pernah kau biarkan teronggok di tangan kiriku
kau begitu maya
dan aku begitu rapuh
saat itu]

atau
aku terlalu rabun
untuk menganggapmu pernah ada ?

14.06.07

Add comment June 15, 2007

juniku, junimu, juni kitakah?

juni yg ranggas
membuatku memberingas
melahapmu
dalam kelam halimun
lalu kubungkus kau
kubawa pulang

di rumah nanti
akan kupatahkan satu tulang rusukku
dan dengan belati kueja nama
yg adalah
kau

apa jawabmu, cinta
mau?
13.06.07

Add comment June 15, 2007

lukaku nganga

luka itu nganga, cinta
kau patahkan sejak kelahiran
lalu pergi sebelum siang memanggang
ada bedakah,
adamu dan tak adamu..?
ada bedakah,
benciku dan rindumu..?

dukaku karenamu begitu hitam, berjelaga
menggenang kakiku, seperti telaga
langkahku lengket tak segesit dulu
saat aromamu masih meluapiku

kini cuma,
bau amis…kuhirup kau
kini cuma,
kisah bengis…kutunggu musnahmu

dengan harap, tanpa cemas
02.05.07

Add comment June 15, 2007

untuk pacar masa kecilku

takkah kau tahu,
seringkali waktuku membatu, mengingatmu
lelah…mungkin
lelap…semoga tak mungkin

masih kuingat dulu
kau yang mungil dan jenaka
memberiku segenggam jambu,
juga hiasan semacam perdu
yg kau buat dengan riang, di bawah pohon nangka

tak kutahu dimana rimbamu
mungkin kau adalah angin
atau hujan
datang dan pergi berdasar ingatan
tak kutahu, sudah lama itu semua kuanggap persetan

apakah cinta sempat menyelinap
di jejak ku,di jejakmu?
kau tak bertanya, aku tak bertanya

dulu kita terlalu jenaka
dan belum paham artinya
kenapa ada cinta, birahi dan persetubuhan

syukurlah, dulu kita terlalu jenaka
03.05.07

Add comment June 15, 2007

suatu ketika kita buta

suatu ketika kau tiba
sesaat sebelum kuketikkan kata
hanya kata
tanpa angka dan titik koma

tak bosankah kau merayu
mendayu
menatapku
dalam sayu
dengan sendu

kutahu jejakmu begitu biru
kutahu kisahmu begitu pilu
kutahu lukamu begitu bisu

kutahu itu
kau perlu sebuah bahu
sekedar tempat istirah sebentar
sekedar tempat bersandar

kuberikan punyaku untukmu
dua bongkah bahu yang tak liat
namun kau bilang cukup hangat

hidup itu laknat, sayangku
cinta itu khianat, kasihku
begitu kau dedahkan didadaku
suatu ketika
sambil kita pura pura buta

kau memaki
dengan berapi
pada semua hal
pada hidup, pada ajal

dan kunyalakan api
lalu kita tahu di esok hari
bara itu bernama birahi

04.05.07

Add comment June 15, 2007

kita dulu

kitapun bersepakat

untuk berkhianat

pada suci norma dan ajaran

yang puluhan tahun ada di otakku, otakmu,

pekat, melekat

kitapun bersepakat

untuk membebaskan semuanya

dalam tarian yang telanjang dan purba

tanpa takut, tanpa ngeri, tanpa dilemma

mengalirlah semua itu

ke kedangkalan nurani, ke kedalaman birahi

keperawananmu untukku, keperawananku untukmu

24.03/2007

Add comment June 15, 2007

kaukah

Lama kutunggu

Hingga waktuku membatu

Lama kubiarkan

bersetia dalam terjal

Kau hembuskan lembut

Kau senyapkan bising

Kau tiupkan semilir

Kau gunturkan petir

Dan kini hampir kujelang ajal

Mengakulah

Kaukah itu

Satu pijar di semesta gelapku

03.04/2007. 02.00 pm, 6.5.07.11.15 am

Add comment June 15, 2007

Previous Posts


Categories

  • Blogroll

  • Feeds