Archive for June 15th, 2007
sebuah batok kepala telah pecah
lingkaran itu menggelap
serupa pekat
berkeliling, menggelinding
nyasar di jidat
para petinggi negeri keparat
lihatlah
bara api keluar dari mulut para jendral
lalu mampir di otak sang kopral
satu perintah yg pejal
dari pemuja ajal
titah itu singkat, jelas, padat:
bubarkan mereka
bukan dg gas air mata
pasang pelurumu dan jangan ragu
lesatkan….
tak peduli melengkung atau lurus tajam
ia harus keji menikam
lalu dor..dor dor….
layar dibuka dengan didahului cicit burung kondor
amboi,
mereka berderak
menerjang remah remah berserak
sekawanan ksatria bermahkota ungu dari timur
engkau kini serupa yamadipati sang penggali kubur
dan timah panas itupun mendesing
menerjang daging para paria papa kurus kering
menembus daun pintu sebuah rumah bambu
merobek paha, meledakkan kepala
mengirim amis darah hingga ke ibukota
mengganggu lelap sang pangeran sinting
serupa bising membuat pekak kuping
ksatria,
picu bedil telah kau tarik
menerjang, membidik, membuat aku dan kamu bergidik
membuat mereka gentar
lalu terbirit mundur dengan sadar
ksatria berbaju bintang di pundak
engkau mulai membentak:
pengacau hanya pantas untuk mati
dan dada para paria itu bergejolak
mereka mulai teriak:
kami tak mau terusir dari ladang di mana masa depan bersemai
sadumuk bathuk, sanyari bumi
maafkan aku
yang hanya mampu bengong di depan tivi
melumat perbantahan tak jua kunjung henti
semuanya tentang remeh temeh tanpa arti
tanah yg keras, tanah yg basah, peluru karet, peluru timah
namun akhirnya
rasa mahfum gagal hadir dikepala
apakah itu sebuah sengaja
atau
hanya hari yg naas dan celaka
nurani sedang lelap tak beranjak
mungkin ia terlalu lama terinjak
terselip di ujung sepatu lars para serdadu sok bijak
wahai saudaraku
yg berada di tepian derap pembangunan
teruslah berlawan
jangan biarkan rasa takut itu jumawa
jangan biarkan jejakmu dihapus paksa
oleh gerombolan para kurawa
yg mengaku sbg ksatria
15.06.07 (teringat korban pasuruan)
Add comment June 15, 2007
aku akan balik badan
sudah lama kau dengar ini di telinga
cerocos mulut bau nikotin murahan tembakau madura
bahkan saat hari masih dini
begitu dini:
menungguku bukanlah sebuah kebaikan
bagimu
juga bagiku
aku terlalu liar untuk cepat pulang
karena
kubayangkan
akulah elang
melayang sendirian
tapi
telaga juga semak belukar itu
begitu teduh dan dalam
dan setia kau kirimkan
lewat petir, juga hujan
dan
aku merasa ngungun
lalu tersungkur
oleh waktu yg nikam sekeji sangkur :
amboi,
betapa pongah aku selama ini
melaju
membelakangimu
maka kumohon
kamu
bertahanlah di tikungan ke tiga itu
aku akan balik badan
lalu gegas
menujumu
14.06.07, edited 15.06.07
Add comment June 15, 2007
untuk kawan yg rela singgah
kawan
terimalah takzimku untukmu
yg sudi singgah di rapuh gubukku
mungkin kedepan
ritual ini bisa berulang
saat kita bersulang
sebagai dua benak gelap gundah bimbang
akan kusuguhkan padamu dengan ajeg
aroma kopi yg mulai apek
oleh waktu dan kesendirian
juga liukan asap tembakau madura
yg berkeriting di udara
kawan
hari ini kudedahkan semua :
kau ternyata
bukan seperti manusia biasa
15.06.07
Add comment June 15, 2007
terbunuh oleh rabun
benarkah begitu
seperti katamu
tentang cinta yg berserak dimana-mana
taukah kamu,
semua masih gelap bagiku
hitam yg semesta
seperti payung para peziarah kubur
sejak rembulan itu pergi
hanya meninggalkan bintik
serupa paralaks parah panjang
yg susah kutangkap
[ada jeda di nafasmu
saat kubisikkan nganga luka itu
jejak yg panjang
menikamku di labirin ingatan
tentang setumpuk buku, juga sekeranjang buah duku
yg pernah kau biarkan teronggok di tangan kiriku
kau begitu maya
dan aku begitu rapuh
saat itu]
atau
aku terlalu rabun
untuk menganggapmu pernah ada ?
14.06.07
Add comment June 15, 2007
juniku, junimu, juni kitakah?
juni yg ranggas
membuatku memberingas
melahapmu
dalam kelam halimun
lalu kubungkus kau
kubawa pulang
di rumah nanti
akan kupatahkan satu tulang rusukku
dan dengan belati kueja nama
yg adalah
kau
apa jawabmu, cinta
mau?
13.06.07
Add comment June 15, 2007
lukaku nganga
luka itu nganga, cinta
kau patahkan sejak kelahiran
lalu pergi sebelum siang memanggang
ada bedakah,
adamu dan tak adamu..?
ada bedakah,
benciku dan rindumu..?
dukaku karenamu begitu hitam, berjelaga
menggenang kakiku, seperti telaga
langkahku lengket tak segesit dulu
saat aromamu masih meluapiku
kini cuma,
bau amis…kuhirup kau
kini cuma,
kisah bengis…kutunggu musnahmu
dengan harap, tanpa cemas
02.05.07
Add comment June 15, 2007
untuk pacar masa kecilku
takkah kau tahu,
seringkali waktuku membatu, mengingatmu
lelah…mungkin
lelap…semoga tak mungkin
masih kuingat dulu
kau yang mungil dan jenaka
memberiku segenggam jambu,
juga hiasan semacam perdu
yg kau buat dengan riang, di bawah pohon nangka
tak kutahu dimana rimbamu
mungkin kau adalah angin
atau hujan
datang dan pergi berdasar ingatan
tak kutahu, sudah lama itu semua kuanggap persetan
apakah cinta sempat menyelinap
di jejak ku,di jejakmu?
kau tak bertanya, aku tak bertanya
dulu kita terlalu jenaka
dan belum paham artinya
kenapa ada cinta, birahi dan persetubuhan
syukurlah, dulu kita terlalu jenaka
03.05.07
Add comment June 15, 2007
suatu ketika kita buta
suatu ketika kau tiba
sesaat sebelum kuketikkan kata
hanya kata
tanpa angka dan titik koma
tak bosankah kau merayu
mendayu
menatapku
dalam sayu
dengan sendu
kutahu jejakmu begitu biru
kutahu kisahmu begitu pilu
kutahu lukamu begitu bisu
kutahu itu
kau perlu sebuah bahu
sekedar tempat istirah sebentar
sekedar tempat bersandar
kuberikan punyaku untukmu
dua bongkah bahu yang tak liat
namun kau bilang cukup hangat
hidup itu laknat, sayangku
cinta itu khianat, kasihku
begitu kau dedahkan didadaku
suatu ketika
sambil kita pura pura buta
kau memaki
dengan berapi
pada semua hal
pada hidup, pada ajal
dan kunyalakan api
lalu kita tahu di esok hari
bara itu bernama birahi
04.05.07
Add comment June 15, 2007
kita dulu
kitapun bersepakat
untuk berkhianat
pada suci norma dan ajaran
yang puluhan tahun ada di otakku, otakmu,
pekat, melekat
kitapun bersepakat
untuk membebaskan semuanya
dalam tarian yang telanjang dan purba
tanpa takut, tanpa ngeri, tanpa dilemma
mengalirlah semua itu
ke kedangkalan nurani, ke kedalaman birahi
keperawananmu untukku, keperawananku untukmu
24.03/2007
Add comment June 15, 2007
kaukah
Lama kutunggu
Hingga waktuku membatu
Lama kubiarkan
bersetia dalam terjal
Kau hembuskan lembut
Kau senyapkan bising
Kau tiupkan semilir
Kau gunturkan petir
Dan kini hampir kujelang ajal
Mengakulah
Kaukah itu
Satu pijar di semesta gelapku
03.04/2007. 02.00 pm, 6.5.07.11.15 am
Add comment June 15, 2007